Saat Tembok Tempat Ibadah Menghalangi Langkah

vocalista1

Anne Avantie : ''Kalau mereka dinilai hitam, tugas kita adalah menuntunnya menjadi abu-abu, sebab menjadikannya putih adalah karya Allah semata.''

KAUM gay dan waria acapkali tumbuh dalam bingkai kehidupan yang terpinggirkan. Meski setiap ajaran agama mewartakan mengenai kasih kepada sesama, namun realitas sosial yang terjadi tidak demikian pada kaum ini. Bahkan untuk terlibat dalam kehidupan menggereja pun begitu sulitnya padahal yang diinginkan hanyalah untuk memuliakan Tuhan.

Sembilan tahun melakukan pendampingan terhadap komunitas Persekutuan Doa Hidup Baru dan Kudus (PHBK) yang beranggotakan kaum homo (gay) dan waria, membuat Anne Avantie semakin yakin akan kedamaian yang dirasakannya. Perancang busana dari Semarang ini sudah berkomitmen untuk selalu mengasihi mereka apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Di kapel Maria Magdalena miliknya di Jalan Kalimas Barat A3/V Semarang, kegiatan rutin dilakukan dalam komunitas yang dibentuk oleh almarhum pendeta Tjondro Purnomo. Meskipun banyak menuai protes dari berbagai kalangan termasuk dari kaum itu sendiri, tetapi Anne beserta keluarga dan sahabat tetap teguh membangun impian untuk menemukan Tuhan melalui keyakinan mereka masing-masing.

Mendampingi kehidupan rohani kaum ini sangat membawa kebahagiaan luar biasa dalam hidup Anne. Banyak sisi baik bisa diserap dari kehidupan kesetiaan dan kebersamaan mereka. Ia melihat masih banyak umat Kristiani yang tiidak menjalankan kasih tanpa syarat seperti yang terus diwartakan. Hal ini terbukti dengan sulitnya kaum gay dan waria bisa ikut terlibat dalam kegiatan menggereja.

”Saya mengalami kadang betapa sulitnya meminta kesempatan pada pihak tertentu agar PHBK boleh terlibat. Terkadang ada gereja dan imam tertentu yang tidak berani ambil risiko untuk mewujudkan kasih tanpa syarat. Padahal iman dan kasih selalu bekerja sama. Kasih mendorong untuk memberi dan iman membuat kita yakin untuk melakukannya,” tuturnya.

Ya, PHBK merupakan kelompok ekumenis, antargereja yang beranggotakan gay, waria, dan lesbian dari berbagai bidang pekerjaan. Diantaranya mulai dari dosen, guru Bahasa Inggris, manajer perusahaan, akunting, pekerja salon, penjahit, sampai tukang masak pun ada di sini. Setiap Senin minggu pertama digelar persekutuan doa de ngan mengundang romo, pendeta, psikolog serta pemerhati secara bergantian. Kegiatan positif yang terpantau akan membuat mereka memiliki kepercayaan diri sehingga pelan-pelan barulah Anne menyelipkan sisi kerohanian pada mereka tanpa menggurui.

Pada minggu kedua, persekutuan doa diadakan di rumah anggota dan kegiatan rutin lainnya yang digelar sekali dalam sepekan adalah kegiatan paduan suara (PS). Dari kelompok paduan suara inilah Vocalista Divina lahir. Nama yang diberikan oleh Romo AG Luhur Pribadi Pr ini boleh diterjemahkan ”suara surgawi”. Antara nama PS dan persekutuan doa saling terkait sebab dari situlah tersirat panggilan dan tugas perutusan untuk secara terus menerus berada dalam hidup baru dan kudus. Dan inilah yang ingin dihayati oleh kelompok khusus ini.

Romo Luhur meyakini pasti tidak akan mudah bagi masyarakat umum untuk mengubah pandangan tentang komunitas tersebut sehingga dibutuhkan rahmat surgawi atau kekuatan ilahi. Jika perutusan itu bisa terwujud di tengah masyarakat, maka hal itu akan menjadikan anggota PHBK diterima dengan baik sebagai pribadi yang bermartabat dan mampu mempersembahkan potensi mereka seperti suara untuk memuji Tuhan.

Anne mengakui, hampir dalam setiap acara yang melibatkan dirinya, Vocalista Divina tak pernah absen. Ibunda dari Intan, Ernest dan Dio ini bertekad untuk memperkenalkan Vocalista Divina kepada dunia. Membuktikan bahwa kelompok minoritas ini pun mampu eksis di tengah cibiran dan sikap diskriminatif masyarakat.

Sebagai kelompok paduan suara, Annne terus merenungkan sebenarnya apa bedanya dengan para anggota koor lain dengan mereka. ”Orang seringkali melihat dari penampilan luar bukan melihat kesungguhan mereka untuk memuliakan Tuhan. Jujur saya menentang pernikahan sejenis! Tapi menentang saja tanpa perbuatan dan karya nyata tidak akan mengubah apapun. Kalau homoseksual dinilai hitam, tugas kita adalah menuntunnya menjadi abu-abu, sebab menjadikannya putih adalah karya Allah semata,” tegasnya.

Akhirnya, ketika Vocalista Divina mendapat kesempatan melantunkan pujian di hadapan Mgr Ignatius Suharyo yang kini jadi uskup coadjutor Keuskupan Agung Jakarta, rasanya itu bagaikan jawaban atas doa-doanya selama ini. Dalam Ekaristi Syukur 12 tahun penggembalaan Mgr Suharyo di GOR Jatidiri baru-baru ini, 20 anggota paduan suara gay dan waria itu tampil memesona ribuan tamu undangan yang hadir.

Seperti kata Anne, sudah saatnya kita ambil bagian dalam membuka pintu bagi kaum waria/gay dan memberi pandangan penuh kasih dengan langkah kongkret. Tugas kita menjadi saluran berkat bagi mereka dan tidak sombong terhadap iman yang diyakini serta memberi ruang hati kita untuk terlibat dengan komunitas ini melalui kegiatan yang tidak diskriminatif. (Modesta Fiska- )

~ by modestafiska on October 30, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: