Marina Barrage, Ikon Baru Singapura

@ Greenyard of Marina Barrage (Farhana Asnap-Danny Lorenzo-Modesta Fiska-Elfiyanti)

Kalau ke Singapura, jangan lewatkan untuk singgah di Marina Barrage. Ini ikon baru parwisata negara tersebut yang merupakan perpaduan teknologi dan seni dan baru enam bulan ini dioperasikan.

Atas undangan Singapore Tourism Board (STB) akhir Mei lalu, bersama sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia, saya diajak ke pelbagai tempat, termasuk ke Marina Barrage.
Proyek bendungan senilai 226 juta dolar atau lebih dari Rp 1,5 triliun yang dibangun di muara Marina Channel itu berfungsi untuk membantu menahan pasang air laut serta mengatasi persoalan banjir di beberapa daerah yang letaknya lebih rendah seperti di Chinatown, Boat Quay, Jalan Besar, dan Geylang.
Damnya terdiri atas sembilan gerbang air dari baja masing-masing 30 meter, yang dibangun memanjang sekitar 350 meter. Gerbang baja setinggi 5 meter itu dapat diturunkan saat kemarau sehingga air dari waduk bisa dilepas ke laut, serta berfungsi sebagai penahan saat ombak tinggi. Air asin secara perlahan akan tergantikan oleh air hujan.
Dan untuk menghindari banjir, kelebihan air dibuang ke laut dengan membuka pintu dam. Namun bila laut pasang, kelebihan air dibuang dengan pompa air. Tujuh pompa drainase raksasa berporos vertikal masing-masing berkapasitas 40 m3/detik, menyalurkan limpahan air ke laut ketika terjadi pasang dengan ombak tinggi.
Nantinya bendungan seluas 10 ribu hektare ini akan menjadi sumber air bersih bagi Singapura sehingga tidak perlu bergantung pada negara lain. Sebagai gambaran saja, ketika tujuh pompa beroperasi bersama dengan dikendalikan motor listrik 1600 kW, kapasitas gabungan bisa mencapai 280 m3/detik.
Dan dengan kekuatan itu setiap pompa dapat mengosongkan kolam renang berukuran olimpiade hanya dalam waktu satu menit. Wow…
Keberadaan dam itu juga dilengkapi dengan teknologi solar cell untuk menangkap sinar matahari yang diubah menjadi tenaga listrik. Jadi tak sulit untuk mendapat pasokan listrik untuk memenuhi permintaan pasar. Melihat terobosan yang dilakukan Singapura, saya membayangkan bila teknologi serupa bisa dibangun di Semarang untuk mengatasi rob.

***
UNTUK menjangkau lokasi dam yang berada di 260 Marina Way, ada layanan shuttle bus gratis dari Marina Bay MRT Station ke Marina Barrage yang ada setiap 15-30 menit. Tiket masuknya gratis dan dibuka mulai pukul 09:00-18:00 pada hari kerja sedangkan pada akhir pekan dan hari libur dibuka lebih panjang mulai pukul 10:00-20:00. Tempat ini khusus tutup pada hari Selasa saja.
Di danau buatan itu, kita bisa menghabiskan waktu memandangi waduk atau berjalan di sepanjang dam menikmati suasana dan udara bersih kala pagi atau sore hari. Bahkan di sejumlah kesempatan tak jarang tempat ini jadi pusat olahraga air seperti jetski, kayak serta berbagai aktivitas permainan air.
Jika ingin sekadar bercengkerama, lapangan utama serta ruang terbuka hijau yang juga memiliki greenroof untuk menurunkan suhu bangunan, bisa juga jadi pilihan. Fern Wong, guide kami mengatakan biasanya setiap akhir pekan tempat itu akan dipenuhi pengunjung yang bermain di hamparan karpet hijau dilatarbelakangi bianglala raksasa Singapore Flyer.
Mau makan atau minum, juga tak akan kesulitan karena ada banyak restoran menyajikan menu-menu ringan serta aneka suvenir sebagai buah tangan. Tak hanya itu, Marina Barrage juga memiliki Sustainable Singapore Gallery yang mengangkat tema lingkungan hidup dengan simbol-simbol menarik untuk edukasi mulai dari pohon organik rekaan, koran-koran bekas, botol plastik daur ulang sebagai tanda supaya kita selalu menjaga lingkungan.
Sebuah miniatur bendungan memberikan pemahaman lebih jauh bagaimana cara kerja dam tersebut. Ditata dengan teknologi tinggi, galeri ini jadi mirip seperti kafe atau pub dengan lampu warna-warni lengkap bernuansa hijau, merah, dan biru.
Sebenarnya sebelum mengunjungi Marina Barrage, kami semua juga sudah menjajal ikon Singapura lain dengan teknologi tak kalah canggih yakni The Singapore Flyer. Bianglala raksasa setinggi 165 meter dengan diameter 150 meter ini memberikan pemandangan luar biasa, lanskap kota yang menarik termasuk sebagian Malaysia dan Indonesia yang bisa diintip dari ketinggian kapsul yang bisa dimuat hingga 28 orang ini.
Untuk bisa menaiki satu putaran selama 30 menit, harga yang harus dibayar lumayan mahal yang jika dirupiahkan bisa mencapai Rp 210 ribu untuk dewasa dan Rp 140 ribu untuk anak-anak. Pemandu kami yang lain Danny Lorenzo mengatakan, pernah satu kali peranti raksasa itu ”ngambek” gara-gara urusan electricity.
Selama enam jam penumpang terkatung-katung di ketinggian. Setelah sempat ditutup sementara untuk perbaikan, wahana itu kembali dibuka dengan jaminan keamanan tinggi. Tercatat di tahun 2008 saja setelah dibuka beberapa bulan, pengunjungnya sudah hampir 2 juta orang.
Bukan hanya pengunjung yang hendak menikmati panorama menarik itu, sebab orang yang hendak menikah pun rela antre memesan jauh hari untuk menggunakan kapsul ”cinta” itu. Paling tidak, sampai sekarang sudah ada 26 pasangan yang menikah di dalam kapsul. Jumlah itu belum termasuk mereka yang menyewa untuk pesata ulang tahun atau makan malam romantis. Tarif sewanya tentu saja berbeda sedikit lebih mahal.


                            @ lobby Ibis Hotel Bencoolen Street

Rasa lelah menyesak sedikit terobati setelah beristirahat di Ibis Hotel Bencoolen Street. Maklum perjalanan dari Semarang-Jakarta-Singapura lumayan lama dan sampai tiba disana saya belum sempat beristirahat. Acara hari kedua adalah kunjungan dari mal ke mal di kawasan Orchard, Marina Square hingga ke VivoCity dekat pelabuhan Front Harbour.

@ senja di Front Harbour

@ senja di Front Harbour

Selain melihat persiapan Great Singapore Sale Shopping Challenge yang diikuti sekitar 11 tim dari berbagai negara, kami juga diajak melihat salah satu mal baru yang sedang dibangun 313@Somerset. Pertumbuhan mal yang begitu besar didorong oleh semakin tingginya jumlah pengunjung yang tahun lalu hampir 10,5 juta orang.
Dari jumlah tersebut, 20%-nya adalah orang Indonesia.
Dan memang pasar itu benar-benar digarap oleh Singapura untuk menarik turis berbelanja ke sana. Mereka mempromosikannya jauh-jauh hari, menggandeng mal-mal besar yang diisi branded ternama seperti Prada, Channel, Luis Vuitton, dan memberikan potongan harga lebih besar dibanding hari biasa. Kerjasama ini juga dilakukan tak hanya dengan mal, tetapi juga hotel dan restoran serta kunjungan ke tempat-tempat menarik lainnya.

Di antara sekian banyak tempat yang dikunjungi, kami sempat mampir ke dua museum yakni Chinatown Heritage Centre dan National Museum of Singapore di Stamford Road. Ya, Singapura memang punya banyak sekali museum yang indah dan benar-benar terawat. Museum pertama di daerah Pagoda Street menampilkan kehidupan orang-orang Cina Zaman dulu yang mulai bermigrasi ke Singapura untuk mencari pekerjaan yang lebih layak.
Sejak masuk, kami disuguhi replika barang-barang kuno yang pernah dipakai, lukisan serta foto-foto menarik. Segala aktivitas mulai dari profesi penjahit, bercocok tanam, nelayan, hingga keseharian waktu itu yang dekat dengan judi, prostitusi dan kemiskinan ditata dengan unik dan dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Sejak lahir, menikah sampai kematian digambarkan begitu jelas dalam museum yang terawat dengan baik.

                         Love Tank @ Museum National of Singapore

Usai berkeliling museum, kami bisa juga berbelanja murah di daerah Chinatown untuk membeli suvenir, makanan/minuman. Untuk menuju museum ini kita bisa naik MRT dan berhenti di Chinatown (NE4) atau Hippo Topless Bus stop H12 dan H13. Sementara jika ingin menikmati sejarah dan budaya, National Museum of Singapore bisa jadi pilihan. Lokasi di Stamford Road bisa dijangkau dengan MRT yang berhenti di Dhoby Gaut setelah itu berjalan sekitar 5 menit dari sana, atau lewat City Hall jaraknya sekitar 10 menit berjalan kaki.
Menariknya, agar anak-anak tak bosan pihak pengelola mengisi sejumlah sudut dengan aneka permainan edukasi untuk melatih ketrampilan dan kecerdasan serta daya pikir. Tak seperti kebanyakan museum yang sepi pengunjung, gedung semegah itu pun tetap terasa ”hidup” dengan berbagai aktivitas.

There's a mini waterfalls there.. Just goin to Singapore Botanic Garden guys!

There's a mini waterfalls there.. Just goin to Singapore Botanic Garden guys!

Kuliner India

LEPAS dari berbagai aktivitas belanja dan jalan-jalan, saatnya menikmati makanan enak. Dari berbagai menu yang kami santap, makanan India yang kaya rempah cukup menarik selera. Ya, jalur perdagangan rempah-rempah seperti lada, cengkeh, kayu manis, kunyit dll memang dulunya mengisi kapal dan dikendalikan oleh Inggris pada saat itu. Arus imigran yang jauh seperti India, Cina, Timur Tengah dan Kepulauan Melayu menjadikan perpaduan unik masakan imigran yang berbeda-beda di negara ini.
Meski banyak restoran India di daerah Little India di Serangoon Road yang bisa saya temui di sana tapi di hari pertama, Danny Lorenzo mengajak kami ke Tanglin Mall di Tanglin Road. Di sana ada restoran India bernama Yantra yang suasananya cozy banget. Bagi yang belum pernah mencicipi menu India maka bersiap-siaplah. Jika tak kuat dengan racikan bumbunya yang kuat, bisa-bisa perut memberontak seperti kawan saya.
Sebagai awalan, chicken kali mirch dan machchi tukda disajikan. Makanan yang pertama ini seperti ayam bakar dengan aroma jahe yang kuat, bawang, bumbu lada dan masih dicampur pasta cabai. Pedasss! Yang kedua ini sama juga pedasnya tapi berupa ikan di-grill sampai warnanya kecoklatan dan di-mix dengan susu masam dan pasta cabai.
Menemani kami, tak lupa Tandoori roti atau Naan yang sangat populer di India terutama di bagian utara, Pakistan serta Afganistan hanya namanya saja yang sedikit berbeda. Lalu datanglah menu utama berupa Diwani Handi, Motiya Palak, Dal Maharaja, Murg Makhani, Rogan Josh, Vegetable Biryani, dan tentu saja nasi.
Menu pertama Diwani Handi ini berisi sayur-sayuran rebus dan kentang yang dimasak dengan pasta jahe dan bawang putih. Sedangkan Motiya Palak ini rasanya cukup enak dengan campuran bayam dan jagung Amerika di-blended dengan bawang putih yang dibakar. Menu-menu selanjutnya berasa kari khas India seperti Rogan Josh.
Murg Makhani ini berupa ayam tanpa tulang berbumbu mentega. Semalaman ayam ini dibumbui yoghurt dan rempah semacam garam masala, jahe, bawang putih, kunyit, jinten, cabai, merica, dan jeruk nipis. Setelah itu dipanggang atau dibakar lalu dicampur saus mentega dan tomat. Terakhir garnishnya berisi mentega putih, susu segar, irisan cabai, dan fenugreek.
Selain di Yantra, kami juga menjajal restoran India lain di Clarke Quay yakni Coriander Leaf. Banyak sekali penghargaan yang didapat restoran yang sekaligus menyediakan cooking class itu. Menunya rata-rata hampir sama hanya mungkin di restoran kedua ini, lidah kami lebih cocok. Menurut Fern, makanan India di sini enak sekali dan kami sependapat.
Yap, di Clarke Quay memang menjadi pusat hiburan yang menarik. Tak hanya restoran India, banyak kafe dan tempat makan enak, hiburan sulap di The Arena, menyusuri Singapore River dengan perahu, hingga G-Max The Ultimate Bungy. (73)

Singapore Visitors Center @ Orchard Road

Singapore Visitors Center @ Orchard Road

 

PS: Published on Suara Merdeka, Minggu (14/6)

~ by modestafiska on July 10, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: