Saat Tembok Tempat Ibadah Menghalangi Langkah

•October 30, 2009 • Leave a Comment
vocalista1

Anne Avantie : ''Kalau mereka dinilai hitam, tugas kita adalah menuntunnya menjadi abu-abu, sebab menjadikannya putih adalah karya Allah semata.''

KAUM gay dan waria acapkali tumbuh dalam bingkai kehidupan yang terpinggirkan. Meski setiap ajaran agama mewartakan mengenai kasih kepada sesama, namun realitas sosial yang terjadi tidak demikian pada kaum ini. Bahkan untuk terlibat dalam kehidupan menggereja pun begitu sulitnya padahal yang diinginkan hanyalah untuk memuliakan Tuhan.

Sembilan tahun melakukan pendampingan terhadap komunitas Persekutuan Doa Hidup Baru dan Kudus (PHBK) yang beranggotakan kaum homo (gay) dan waria, membuat Anne Avantie semakin yakin akan kedamaian yang dirasakannya. Perancang busana dari Semarang ini sudah berkomitmen untuk selalu mengasihi mereka apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Di kapel Maria Magdalena miliknya di Jalan Kalimas Barat A3/V Semarang, kegiatan rutin dilakukan dalam komunitas yang dibentuk oleh almarhum pendeta Tjondro Purnomo. Meskipun banyak menuai protes dari berbagai kalangan termasuk dari kaum itu sendiri, tetapi Anne beserta keluarga dan sahabat tetap teguh membangun impian untuk menemukan Tuhan melalui keyakinan mereka masing-masing.

Mendampingi kehidupan rohani kaum ini sangat membawa kebahagiaan luar biasa dalam hidup Anne. Banyak sisi baik bisa diserap dari kehidupan kesetiaan dan kebersamaan mereka. Ia melihat masih banyak umat Kristiani yang tiidak menjalankan kasih tanpa syarat seperti yang terus diwartakan. Hal ini terbukti dengan sulitnya kaum gay dan waria bisa ikut terlibat dalam kegiatan menggereja.

”Saya mengalami kadang betapa sulitnya meminta kesempatan pada pihak tertentu agar PHBK boleh terlibat. Terkadang ada gereja dan imam tertentu yang tidak berani ambil risiko untuk mewujudkan kasih tanpa syarat. Padahal iman dan kasih selalu bekerja sama. Kasih mendorong untuk memberi dan iman membuat kita yakin untuk melakukannya,” tuturnya.

Ya, PHBK merupakan kelompok ekumenis, antargereja yang beranggotakan gay, waria, dan lesbian dari berbagai bidang pekerjaan. Diantaranya mulai dari dosen, guru Bahasa Inggris, manajer perusahaan, akunting, pekerja salon, penjahit, sampai tukang masak pun ada di sini. Setiap Senin minggu pertama digelar persekutuan doa de ngan mengundang romo, pendeta, psikolog serta pemerhati secara bergantian. Kegiatan positif yang terpantau akan membuat mereka memiliki kepercayaan diri sehingga pelan-pelan barulah Anne menyelipkan sisi kerohanian pada mereka tanpa menggurui.

Pada minggu kedua, persekutuan doa diadakan di rumah anggota dan kegiatan rutin lainnya yang digelar sekali dalam sepekan adalah kegiatan paduan suara (PS). Dari kelompok paduan suara inilah Vocalista Divina lahir. Nama yang diberikan oleh Romo AG Luhur Pribadi Pr ini boleh diterjemahkan ”suara surgawi”. Antara nama PS dan persekutuan doa saling terkait sebab dari situlah tersirat panggilan dan tugas perutusan untuk secara terus menerus berada dalam hidup baru dan kudus. Dan inilah yang ingin dihayati oleh kelompok khusus ini.

Romo Luhur meyakini pasti tidak akan mudah bagi masyarakat umum untuk mengubah pandangan tentang komunitas tersebut sehingga dibutuhkan rahmat surgawi atau kekuatan ilahi. Jika perutusan itu bisa terwujud di tengah masyarakat, maka hal itu akan menjadikan anggota PHBK diterima dengan baik sebagai pribadi yang bermartabat dan mampu mempersembahkan potensi mereka seperti suara untuk memuji Tuhan.

Anne mengakui, hampir dalam setiap acara yang melibatkan dirinya, Vocalista Divina tak pernah absen. Ibunda dari Intan, Ernest dan Dio ini bertekad untuk memperkenalkan Vocalista Divina kepada dunia. Membuktikan bahwa kelompok minoritas ini pun mampu eksis di tengah cibiran dan sikap diskriminatif masyarakat.

Sebagai kelompok paduan suara, Annne terus merenungkan sebenarnya apa bedanya dengan para anggota koor lain dengan mereka. ”Orang seringkali melihat dari penampilan luar bukan melihat kesungguhan mereka untuk memuliakan Tuhan. Jujur saya menentang pernikahan sejenis! Tapi menentang saja tanpa perbuatan dan karya nyata tidak akan mengubah apapun. Kalau homoseksual dinilai hitam, tugas kita adalah menuntunnya menjadi abu-abu, sebab menjadikannya putih adalah karya Allah semata,” tegasnya.

Akhirnya, ketika Vocalista Divina mendapat kesempatan melantunkan pujian di hadapan Mgr Ignatius Suharyo yang kini jadi uskup coadjutor Keuskupan Agung Jakarta, rasanya itu bagaikan jawaban atas doa-doanya selama ini. Dalam Ekaristi Syukur 12 tahun penggembalaan Mgr Suharyo di GOR Jatidiri baru-baru ini, 20 anggota paduan suara gay dan waria itu tampil memesona ribuan tamu undangan yang hadir.

Seperti kata Anne, sudah saatnya kita ambil bagian dalam membuka pintu bagi kaum waria/gay dan memberi pandangan penuh kasih dengan langkah kongkret. Tugas kita menjadi saluran berkat bagi mereka dan tidak sombong terhadap iman yang diyakini serta memberi ruang hati kita untuk terlibat dengan komunitas ini melalui kegiatan yang tidak diskriminatif. (Modesta Fiska- )

Menikmati Ketinggian di Umbul Sidomukti

•October 29, 2009 • Leave a Comment

DSC_3263
Umbul Sidomukti di ketinggian

Terkadang sesekali kita membutuhkan ketenangan. Pergi jauh dari hingar bingar dan riuhnya aktivitas perkotaan yang membosankan.
Rutinitas pekerjaan yang itu-itu saja jika tak disadari bisa menumbuhkan ”penyakit” kronis yang tak mau pergi.
Barangkali itulah yang jadi salah satu alasan saya dan teman-teman wartawan ekonomi di Semarang memilih pergi ”menyepi ” di Umbul Sidomukti Bandungan.
Tempat di ketinggian ini benar-benar membuat takjub, belum lagi kolam renang alam dengan settingan batu alam kian menggoda untuk menyelaminya. Wew, bagaikan surga saja kurasakan… Alhasil kami pun memutuskan berkemah, kembali ke masa-masa indah saat sekolah (halah) dengan makanan seadanya tapi pemandangan tiada duanya.

DSC_3487
Beautiful view in the morning

Untuk bisa mengakses tempat ini memang tak terlampau sulit, asalkan sampai ke Pasar Jimbaran sebelum menuju Bandungan berbeloklah ke kanan kalau dari arah Semarang.
Perjalanannya sekitar 4 atau 5 kilometer sampai ke lereng gunung Ungaran itu. Saran saya, pastikan kendaraan fit benar karena jalan tak terlampau mulus. Motor atau mobil tak masalah yang penting kuat naik tanjakan yang super duper terjal.

DSC_3339
Selain wisata yang ada sekarang, pengelola Umbul Sidomukti akan segera merealisasikan wisata agro dalam waktu dekat, menyusul kesiapan lahan serta menjelang masuknya musim penghujan.
Persiapan infrastruktur ini juga didukung operasionalisasi 10 unit villa dan ruang pertemuan berkapasitas hingga 50 orang. Direktur PT Panorama Agro Sidomukti Bambang Ari Wijanarko mengatakan, saat ini lahan yang dimanfaatkan untuk areal wisata kolam renang dan outbound baru sekitar sembilan hektare, sedangkan sisanya lebih dari 20 hektare masih belum dimanfaatkan secara optimal.
DSC_3551
Pihaknya sebagai pengelola sudah menyiapkan kebutuhan untuk agrowisata hanya menunggu masuknya musim penghujan, sebab itulah saat yang tepat untuk mengolah tanah dan lahan pertanian.
’’Kami akan fokus ke hortikultura dan sayuran organik. Selain itu ke depan kami juga akan membuka semacam pemerahan sapi. Jadi pengunjung bisa mempraktikkan langsung cara bercocok tanam, bermain kerbau atau memerah susu sapi,’’ katanya.
Penanaman buah stroberi juga akan menjadi salah satu hal yang ditawarkan dalam paket agrowisata tersebut.
Bambang optimistis, tambahan fasilitas wisata agro ini akan menjadi alternatif tujuan bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke umbul Sidomukti yang berada di lereng gunung Ungaran di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang ini.

DSC_3438

Serunya berkemping!

Dijelaskan, rata-rata jumlah kunjungan saat ini sekitar 1.500 orang/minggu atau 6.000 wisatawan dalam satu bulannya. Sebagian besar memanfaatkan waktu berliburnya dengan berenang di kolam yang berasal dari sumber air, mencoba permainan menantang dalam outbound dan berkemah dalam area camping ground yang sudah dipersiapkan.
Pihak pengelola saat ini juga sedang melakukan finishing atau tahapan akhir dalam penyelesaian 10 unit villa yang masing-masing terdapat dua kamar berkapasitas empat orang. Finishing itu juga sekaligus menunggu permohonan penyambungan listrik oleh PT PLN.

DSC_3417

Enjoy a glass of coffee in the morning...

Meski masih belum dioperasikan, permintaan untuk reservasi villa bertarif Rp 450 ribu/malam dan ruang pertemuan ini sudah cukup banyak. Tak hanya dari perseorangan, tetapi juga dari instansi swasta/pemerintah
dan institusi pendidikan. Nah, kalau ada yang berminat sepertinya harus menunggu satu atau dua bulan lagi deh tapi yakinlah pemandangan dari vila di ketinggian ini tak akan mengecewakan.🙂

DSC_3470

Wanna try this? wew...

Di sini pun kita bisa mencoba berbagai permainan menantang mulai dari flying fox, reppeling, atau mencoba motor beroda tiga naik turun bukit. Wow seru banget! Dan yang jelas jangan lewatkan untuk berenang di ketinggian. Bisa jadi kolam renang yang ada di sini menjadi kolam renang tertinggi di Indonesia..he3…
Air kolam yang berasal dari sumber ini memang lumayan dingin tapi dijamin seger banget.

DSC_3580

Satu dari beberapa kolam yang ada

Untuk bisa camping disini cukup bayar Rp 15 ribu/orang, kalau tak ingin repot bawa perlengkapan camping sewa saja tenda dome yang bisa digunakan untuk 2-3 orang. Tenda ini harganya cuma Rp 25 ribu saja. Makanan? Bawa saja yang instan dan cemilan lain karena kompor pun bisa menyewa dengan membayar Rp 15 ribu-Rp 20 ribu. Kalau tak mau repot lagi, disana ada juga restoran dengan menu tak kalah nikmat. Tapi hanya buka sampai sore saja loo…
Jadi sepertinya tak ada alasan untuk tidak mencoba sensasi alam di ketinggian yang murah meriah ini kan??

Ready for swim

Memiliki Kehilangan…

•July 17, 2009 • Leave a Comment

Saat bait-bait doa dipanjatkan, hampir tak ada suara yang bisa kudengar. Pelan-pelan bangkit kemudian lirih memeluk kesendirian seorang wanita yang tertunduk pilu. Salam Maria penuh rahmat Tuhan sertamu…sejurus kemudian isak tangis memecah, suaranya parau tapi ia bisa melanjutkan hingga purna. Sebuah kekuatan untuk permohonan bagi anak tercintanya.
Tiga tahun lebih setelah putra bungsunya meninggal, keluarga ini tetap bertahan dalam kekuatan doa yang kukira begitu sakralnya. Ditemani dua anak mereka yang masih hidup Marcel dan Dedek, om Victor dan Bulik Gayatri tetap setia dalam kehidupan rohaninya.
Pernah suatu sore aku bertandang ke sana sekedar menyambangi rumah mungilnya, lalu aku merasa sebuah kehangatan dalam rumah itu. Canda tawa senyum bahagia meliputi keluarga kecil ini. ”Ayo Marcel, Dedek waktunya berdoa kita ke kamar…Mbak Fiska doa sekalian yuk,” kata bulikku itu.
Ya, hampir jam 6 sore. Aku pun turut ke kamar yang memanjang bentuknya, duduk bersila bersama-sama berdoa. Si kecil ada di sampingku…15 menit semuanya terlantun dari bibir orang-orang yang ada di rumah ini.
Orangtua mendoakan anaknya, dan si anak mendoakan bapak-ibunya. Masing-masing punya harapan dan keinginan. Tak lupa semua keluarga kami turut didoakan. Aku hampir menangis, bukan karena sedih tapi lebih kepada haru yang menyelimuti pikiranku.
Bayangan itu kembali hadir saat semalam aku berdoa di tengah peringatan 1.000 hari meninggalnya Ambrosius.
Yach, Ambros meninggal di usianya yang masih sangat muda…9 bulan. Saat dia masih lucu-lucunya dan menjadi kegembiraan bagi setiap orang yang melihat dan menggendongnya. Hanyut dalam kesedihan tentu bukanlah yang Tuhan inginkan sebab sejatinya Tuhan sangat mencintai Ambros sehingga Ia mengambilnya lebih cepat.
Kebahagiaan dan rasa percaya bahwa anak tercintanya sudah berbahagia di atas sana, menjadi sebuah penopang kehidupan imannya.
Kehilangan begitu dalam itu pasti dirasakan…tapi kita bisa memiliki kehilangan sebagai sebuah cobaan yang mendewasakan. Ujian yang Tuhan timpakan bagi kita yang ditinggalkan. Dan nyatanya keluarga kecil itu mampu melaluinya dengan ketabahan luar biasa…
Few months ago with brothers n sisters…right-left: Marcel, Dedek, Me, Neena, Chris, Indri, n Wawan.

Marina Barrage, Ikon Baru Singapura

•July 10, 2009 • Leave a Comment

@ Greenyard of Marina Barrage (Farhana Asnap-Danny Lorenzo-Modesta Fiska-Elfiyanti)

Kalau ke Singapura, jangan lewatkan untuk singgah di Marina Barrage. Ini ikon baru parwisata negara tersebut yang merupakan perpaduan teknologi dan seni dan baru enam bulan ini dioperasikan.

Atas undangan Singapore Tourism Board (STB) akhir Mei lalu, bersama sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia, saya diajak ke pelbagai tempat, termasuk ke Marina Barrage.
Proyek bendungan senilai 226 juta dolar atau lebih dari Rp 1,5 triliun yang dibangun di muara Marina Channel itu berfungsi untuk membantu menahan pasang air laut serta mengatasi persoalan banjir di beberapa daerah yang letaknya lebih rendah seperti di Chinatown, Boat Quay, Jalan Besar, dan Geylang.
Damnya terdiri atas sembilan gerbang air dari baja masing-masing 30 meter, yang dibangun memanjang sekitar 350 meter. Gerbang baja setinggi 5 meter itu dapat diturunkan saat kemarau sehingga air dari waduk bisa dilepas ke laut, serta berfungsi sebagai penahan saat ombak tinggi. Air asin secara perlahan akan tergantikan oleh air hujan.
Dan untuk menghindari banjir, kelebihan air dibuang ke laut dengan membuka pintu dam. Namun bila laut pasang, kelebihan air dibuang dengan pompa air. Tujuh pompa drainase raksasa berporos vertikal masing-masing berkapasitas 40 m3/detik, menyalurkan limpahan air ke laut ketika terjadi pasang dengan ombak tinggi.
Nantinya bendungan seluas 10 ribu hektare ini akan menjadi sumber air bersih bagi Singapura sehingga tidak perlu bergantung pada negara lain. Sebagai gambaran saja, ketika tujuh pompa beroperasi bersama dengan dikendalikan motor listrik 1600 kW, kapasitas gabungan bisa mencapai 280 m3/detik.
Dan dengan kekuatan itu setiap pompa dapat mengosongkan kolam renang berukuran olimpiade hanya dalam waktu satu menit. Wow…
Keberadaan dam itu juga dilengkapi dengan teknologi solar cell untuk menangkap sinar matahari yang diubah menjadi tenaga listrik. Jadi tak sulit untuk mendapat pasokan listrik untuk memenuhi permintaan pasar. Melihat terobosan yang dilakukan Singapura, saya membayangkan bila teknologi serupa bisa dibangun di Semarang untuk mengatasi rob.

***
UNTUK menjangkau lokasi dam yang berada di 260 Marina Way, ada layanan shuttle bus gratis dari Marina Bay MRT Station ke Marina Barrage yang ada setiap 15-30 menit. Tiket masuknya gratis dan dibuka mulai pukul 09:00-18:00 pada hari kerja sedangkan pada akhir pekan dan hari libur dibuka lebih panjang mulai pukul 10:00-20:00. Tempat ini khusus tutup pada hari Selasa saja.
Di danau buatan itu, kita bisa menghabiskan waktu memandangi waduk atau berjalan di sepanjang dam menikmati suasana dan udara bersih kala pagi atau sore hari. Bahkan di sejumlah kesempatan tak jarang tempat ini jadi pusat olahraga air seperti jetski, kayak serta berbagai aktivitas permainan air.
Jika ingin sekadar bercengkerama, lapangan utama serta ruang terbuka hijau yang juga memiliki greenroof untuk menurunkan suhu bangunan, bisa juga jadi pilihan. Fern Wong, guide kami mengatakan biasanya setiap akhir pekan tempat itu akan dipenuhi pengunjung yang bermain di hamparan karpet hijau dilatarbelakangi bianglala raksasa Singapore Flyer.
Mau makan atau minum, juga tak akan kesulitan karena ada banyak restoran menyajikan menu-menu ringan serta aneka suvenir sebagai buah tangan. Tak hanya itu, Marina Barrage juga memiliki Sustainable Singapore Gallery yang mengangkat tema lingkungan hidup dengan simbol-simbol menarik untuk edukasi mulai dari pohon organik rekaan, koran-koran bekas, botol plastik daur ulang sebagai tanda supaya kita selalu menjaga lingkungan.
Sebuah miniatur bendungan memberikan pemahaman lebih jauh bagaimana cara kerja dam tersebut. Ditata dengan teknologi tinggi, galeri ini jadi mirip seperti kafe atau pub dengan lampu warna-warni lengkap bernuansa hijau, merah, dan biru.
Sebenarnya sebelum mengunjungi Marina Barrage, kami semua juga sudah menjajal ikon Singapura lain dengan teknologi tak kalah canggih yakni The Singapore Flyer. Bianglala raksasa setinggi 165 meter dengan diameter 150 meter ini memberikan pemandangan luar biasa, lanskap kota yang menarik termasuk sebagian Malaysia dan Indonesia yang bisa diintip dari ketinggian kapsul yang bisa dimuat hingga 28 orang ini.
Untuk bisa menaiki satu putaran selama 30 menit, harga yang harus dibayar lumayan mahal yang jika dirupiahkan bisa mencapai Rp 210 ribu untuk dewasa dan Rp 140 ribu untuk anak-anak. Pemandu kami yang lain Danny Lorenzo mengatakan, pernah satu kali peranti raksasa itu ”ngambek” gara-gara urusan electricity.
Selama enam jam penumpang terkatung-katung di ketinggian. Setelah sempat ditutup sementara untuk perbaikan, wahana itu kembali dibuka dengan jaminan keamanan tinggi. Tercatat di tahun 2008 saja setelah dibuka beberapa bulan, pengunjungnya sudah hampir 2 juta orang.
Bukan hanya pengunjung yang hendak menikmati panorama menarik itu, sebab orang yang hendak menikah pun rela antre memesan jauh hari untuk menggunakan kapsul ”cinta” itu. Paling tidak, sampai sekarang sudah ada 26 pasangan yang menikah di dalam kapsul. Jumlah itu belum termasuk mereka yang menyewa untuk pesata ulang tahun atau makan malam romantis. Tarif sewanya tentu saja berbeda sedikit lebih mahal.


                            @ lobby Ibis Hotel Bencoolen Street

Rasa lelah menyesak sedikit terobati setelah beristirahat di Ibis Hotel Bencoolen Street. Maklum perjalanan dari Semarang-Jakarta-Singapura lumayan lama dan sampai tiba disana saya belum sempat beristirahat. Acara hari kedua adalah kunjungan dari mal ke mal di kawasan Orchard, Marina Square hingga ke VivoCity dekat pelabuhan Front Harbour.

@ senja di Front Harbour

@ senja di Front Harbour

Selain melihat persiapan Great Singapore Sale Shopping Challenge yang diikuti sekitar 11 tim dari berbagai negara, kami juga diajak melihat salah satu mal baru yang sedang dibangun 313@Somerset. Pertumbuhan mal yang begitu besar didorong oleh semakin tingginya jumlah pengunjung yang tahun lalu hampir 10,5 juta orang.
Dari jumlah tersebut, 20%-nya adalah orang Indonesia.
Dan memang pasar itu benar-benar digarap oleh Singapura untuk menarik turis berbelanja ke sana. Mereka mempromosikannya jauh-jauh hari, menggandeng mal-mal besar yang diisi branded ternama seperti Prada, Channel, Luis Vuitton, dan memberikan potongan harga lebih besar dibanding hari biasa. Kerjasama ini juga dilakukan tak hanya dengan mal, tetapi juga hotel dan restoran serta kunjungan ke tempat-tempat menarik lainnya.

Di antara sekian banyak tempat yang dikunjungi, kami sempat mampir ke dua museum yakni Chinatown Heritage Centre dan National Museum of Singapore di Stamford Road. Ya, Singapura memang punya banyak sekali museum yang indah dan benar-benar terawat. Museum pertama di daerah Pagoda Street menampilkan kehidupan orang-orang Cina Zaman dulu yang mulai bermigrasi ke Singapura untuk mencari pekerjaan yang lebih layak.
Sejak masuk, kami disuguhi replika barang-barang kuno yang pernah dipakai, lukisan serta foto-foto menarik. Segala aktivitas mulai dari profesi penjahit, bercocok tanam, nelayan, hingga keseharian waktu itu yang dekat dengan judi, prostitusi dan kemiskinan ditata dengan unik dan dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Sejak lahir, menikah sampai kematian digambarkan begitu jelas dalam museum yang terawat dengan baik.

                         Love Tank @ Museum National of Singapore

Usai berkeliling museum, kami bisa juga berbelanja murah di daerah Chinatown untuk membeli suvenir, makanan/minuman. Untuk menuju museum ini kita bisa naik MRT dan berhenti di Chinatown (NE4) atau Hippo Topless Bus stop H12 dan H13. Sementara jika ingin menikmati sejarah dan budaya, National Museum of Singapore bisa jadi pilihan. Lokasi di Stamford Road bisa dijangkau dengan MRT yang berhenti di Dhoby Gaut setelah itu berjalan sekitar 5 menit dari sana, atau lewat City Hall jaraknya sekitar 10 menit berjalan kaki.
Menariknya, agar anak-anak tak bosan pihak pengelola mengisi sejumlah sudut dengan aneka permainan edukasi untuk melatih ketrampilan dan kecerdasan serta daya pikir. Tak seperti kebanyakan museum yang sepi pengunjung, gedung semegah itu pun tetap terasa ”hidup” dengan berbagai aktivitas.

There's a mini waterfalls there.. Just goin to Singapore Botanic Garden guys!

There's a mini waterfalls there.. Just goin to Singapore Botanic Garden guys!

Kuliner India

LEPAS dari berbagai aktivitas belanja dan jalan-jalan, saatnya menikmati makanan enak. Dari berbagai menu yang kami santap, makanan India yang kaya rempah cukup menarik selera. Ya, jalur perdagangan rempah-rempah seperti lada, cengkeh, kayu manis, kunyit dll memang dulunya mengisi kapal dan dikendalikan oleh Inggris pada saat itu. Arus imigran yang jauh seperti India, Cina, Timur Tengah dan Kepulauan Melayu menjadikan perpaduan unik masakan imigran yang berbeda-beda di negara ini.
Meski banyak restoran India di daerah Little India di Serangoon Road yang bisa saya temui di sana tapi di hari pertama, Danny Lorenzo mengajak kami ke Tanglin Mall di Tanglin Road. Di sana ada restoran India bernama Yantra yang suasananya cozy banget. Bagi yang belum pernah mencicipi menu India maka bersiap-siaplah. Jika tak kuat dengan racikan bumbunya yang kuat, bisa-bisa perut memberontak seperti kawan saya.
Sebagai awalan, chicken kali mirch dan machchi tukda disajikan. Makanan yang pertama ini seperti ayam bakar dengan aroma jahe yang kuat, bawang, bumbu lada dan masih dicampur pasta cabai. Pedasss! Yang kedua ini sama juga pedasnya tapi berupa ikan di-grill sampai warnanya kecoklatan dan di-mix dengan susu masam dan pasta cabai.
Menemani kami, tak lupa Tandoori roti atau Naan yang sangat populer di India terutama di bagian utara, Pakistan serta Afganistan hanya namanya saja yang sedikit berbeda. Lalu datanglah menu utama berupa Diwani Handi, Motiya Palak, Dal Maharaja, Murg Makhani, Rogan Josh, Vegetable Biryani, dan tentu saja nasi.
Menu pertama Diwani Handi ini berisi sayur-sayuran rebus dan kentang yang dimasak dengan pasta jahe dan bawang putih. Sedangkan Motiya Palak ini rasanya cukup enak dengan campuran bayam dan jagung Amerika di-blended dengan bawang putih yang dibakar. Menu-menu selanjutnya berasa kari khas India seperti Rogan Josh.
Murg Makhani ini berupa ayam tanpa tulang berbumbu mentega. Semalaman ayam ini dibumbui yoghurt dan rempah semacam garam masala, jahe, bawang putih, kunyit, jinten, cabai, merica, dan jeruk nipis. Setelah itu dipanggang atau dibakar lalu dicampur saus mentega dan tomat. Terakhir garnishnya berisi mentega putih, susu segar, irisan cabai, dan fenugreek.
Selain di Yantra, kami juga menjajal restoran India lain di Clarke Quay yakni Coriander Leaf. Banyak sekali penghargaan yang didapat restoran yang sekaligus menyediakan cooking class itu. Menunya rata-rata hampir sama hanya mungkin di restoran kedua ini, lidah kami lebih cocok. Menurut Fern, makanan India di sini enak sekali dan kami sependapat.
Yap, di Clarke Quay memang menjadi pusat hiburan yang menarik. Tak hanya restoran India, banyak kafe dan tempat makan enak, hiburan sulap di The Arena, menyusuri Singapore River dengan perahu, hingga G-Max The Ultimate Bungy. (73)

Singapore Visitors Center @ Orchard Road

Singapore Visitors Center @ Orchard Road

 

PS: Published on Suara Merdeka, Minggu (14/6)

Di Ujung WaktUku

•March 23, 2009 • Leave a Comment
biru yang kucari

biru yang kucari

jejak-jejak kaki di pantai berpasir itu masih ada
panasnya juga masih tertahan
sementara di atas…
awan biru terlihat riang
sama halnya dengan angin dan ombak siang itu
berdebur kencang menghempaskan debu-debu lautan
kita masih ada di ujungnya
di belahan karang-karang tajam
menunjukkan taringnya
dengan segenap kekuatan kubertahan
berjuang untuk dapatkan sebentuk biru yang indah
sebuah kenikmatan luar biasa
saat semburat pagi itu tiba
hingga senja menjelang
dan kau pun menghilang

Tapi lagi-lagi… aku masih tetap bertahan

PLTU Rembang, Masa Depan Listrik Nasional

•March 20, 2009 • Leave a Comment

Oleh Modesta Fiska


KRISIS listrik yang membayangi bangsa ini seolah jadi momok menakutkan bagi banyak kalangan. Apalagi di dunia usaha dimana potensi ancaman krisis listrik benar-benar menggerus produktivitas mereka.

Lalu pemerintah? Bagai buah simalakama rasanya mengingat dengan menggebu-gebu jajaran pejabat itu sibuk menggenjot investasi agar perekonomian terus bergairah. Tapi tentu saja jika tidak didukung ketersediaan suplai energi listrik yang andal sehingga pemadaman terus datang bertubi-tubi, bagaimana bisa mendatangkan investasi ke dalam negeri?

Seperti diungkapkan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng Solichedi beberapa waktu lalu bahwa krisis pasokan listrik bisa mengurangi kepercayaan calon investor. Pemerintah pun diharapkan bisa meyakinkan kembali pemodal dengan pembangunan kelistrikan serta penanganan krisis secara menyeluruh.

Kendati demikian, pemerintah telah berupaya dengan menggulirkan proyek percepatan pembangunan pembangkit 10.000 MW di berbagai daerah. Kebutuhan listrik yang bakal terus meningkat setiap tahunnya ini telah diantisipasi dengan penyelesaian proyek-proyek pembangkitan yang diharapkan mampu menopang kebutuhan listrik nasional yang kian menipis.

Salah satu masa depan listrik nasional itu adalah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1 Rembang yang berada di Desa Leran dan Trahan, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang. Pembangkit berkapasitas 2 x 315 MW dengan bahan bakar batu bara tersebut diperkirakan mampu menghemat uang negara hingga Rp 4 triliun per tahun.

Penghematan sebesar itu menurut Direktur Konstruksi Strategis PT PLN (Persero) Ir Moch Agung Nugroho, bisa terjadi karena pengoperasian PLTU menggunakan bahan bakar batu bara berkalori rendah sebagai pengganti BBM. Setiap tahunnya, PLTU tersebut akan membutuhkan sekitar 2,16 juta ton batu bara.

Pengerjaan proyek yang dilaksanakan oleh Konsorsium Zelan-Priamanaya-Tronoh itu bahkan hingga Senin (13/10) sudah mencapai progress 63,97% dari waktu penyelesaian yang ditargetkan selesai September 2009 untuk Unit I, dan Unit II pada Desember 2009.

Soelijanto Harry P, project director PLTU 1 Rembang mengungkapkan, setelah diresmikannya boiler drum lifting akhir Juli lalu, pihaknya kini fokus pada pekerjaan utama pemasangan peralatan dan pendukung boiler turbin serta generator termasuk pekerjaan sipil utama. Pekerjaan mekanikal, lanjut Harry, mengarah pada bangunan konstruksi bertekanan seperti boiler dan water wall.

Krisis Listrik Jawa-Bali

Proyek transmisi yang terkait dengan PLTU juga harus diselesaikan akhir tahun ini. Pasalnya, PLTU Rembang akan membutuhkan tenaga listrik untuk memulai rangkaian uji coba sistem yang dijadwalkan berlangsung awal Januari 2009. ‘’Semua berjalan lancar tidak ada kendala berarti termasuk pendanaan.’’

Kelancaran proyek PLTU 1 Rembang ini patut diapresiasi positif oleh semua kalangan mengingat keberadaannya yang sangat dibutuhkan, khususnya untuk mengatasi krisis listrik Jawa-Bali. Walaupun pada tahap awal sempat terjadi masalah terkait pembebasan lahan warga, hal itu sudah diselesaikan sesuai kesepakatan melalui jalur hukum.

Dan proyek tersebut tidak hanya akan mampu menopang suplai listrik nasional, tapi juga mensejahterakan masyarakat sekitarnya. Investasi senilai 338,8 juta dolar AS telah menghidupkan geliat perekonomian di wilayah tersebut. Penyerapan lebih dari 2.000 tenaga kerja lokal, sangat bermakna di tengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan. Moch Agung mengungkapkan, setidaknya lebih dari 3.500 tenaga kerja baik lokal maupun asing akan menyelesaikan pengerjaan selama puncak konstruksi.

Mulusnya proyek PLTU Rembang ini, lanjut dia, juga diikuti dengan dua proyek pembangkit lainnya seperti PLTU Indramayu (3 x 330 MW) dan Labuhan (2 x 316 MW) yang diperkirakan selesai lebih cepat 1-3 bulan dari rencana awal. ‘’PLTU Labuhan yang direncanakan beroperasi pada September dan Desember 2009 bakal maju tiga bulan. Begitu pula dengan PLTU Indramayu kemungkinan bisa 1-2 bulan lebih cepat,’’ paparnya.

Project Secretary PLTU Rembang Soeriarso Suryo menjelaskan, energi listrik dari pembangkit yang dibangun di atas area seluas 548.768 meter persegi ini akan disalurkan melalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV ke gardu induk 150 kV Rembang yang berjarak 22 km dan gardu induk Pati 150 kV yang berjarak 60 km.

Pertumbuhan Listrik 7%

Kembali lagi soal pemadaman yang mulai sering berlangsung, menurut pengamat energi dari Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, sebenarnya tidak perlu terjadi. Dengan kapasitas terpasang mencapai 22.000 MW sedangkan beban puncak 16.500 MW, maka daya cadangan masih dalam batas aman sekitar 25-27% jika seluruh pembangkit siap pasok.

Namun kenyataannya tidak demikian karena ada saja kerusakan, perawatan, derating, variasi musim, dan ketiadaan bahan bakar. Berbagai kendala ini menyebabkan daya mampu pembangkit untuk memasok beban sangat terbatas sehingga berbuntut pemadaman. Defisit pertumbuhan pembangkit listrik, lanjutnya, harus dikelola dengan kebijakan terencana.

Setiap tahun setidaknya dibutuhkan 1.500 MW kapasitas terpasang baru untuk mengatasi pertumbuhan listrik 7%. ‘’Kebutuhan investasi pembangkit, transmisi, dan distribusi hingga 2012 diperkirakan sekitar 40 miliar dolar dan saat ini penambahan kapasitas pembangkit baru jauh lebih rendah dari pertumbuhan permintaan,’’ ujarnya.

Ya, tak hanya menunggu realisasi PLTU Rembang karena penambahan kapasitas pembangkit baru memang cukup vital diperlukan. Masih banyak daerah-daerah lain di luar Jawa yang sangat membutuhkan keberadaan pembangkit-pembangkit baru sebagai obat kondisi kelistrikan yang kian memburuk.(62)

diterbitkan Oct 14, 2008 untuk Lomba Penulisan Hari Listrik Nasional mengenai PLTU Rembang. (www.suaramerdeka.com)

nuansa bening

•March 17, 2009 • Leave a Comment
petikan gitar itu membangunkan mimpiku

petikan gitar itu membangunkan mimpiku

Oh..tiada yang hebat dan mempesona
Ketika kau lewat di hadapanku
Biasa saja…

Waktu perkenalan lewatlah sudah
Ada yang menarik pancaran diri
Terus mengganggu

Mendengar cerita sehari-hari
Yang wajar tapi tetap mengasyikkan

Reff :
Kini terasa sungguh
Semakin engkau jauh
Semakin terasa dekat
Akan ku kembangkan
Kasih yang kau tanam
Di dalam hatiku

Oh, tiada kejutan pesona diri
Pertama kujabat jemari tanganmu
Biasa saja…

Masa pertalian terjalin sudah
Ada yang menarik bayang-bayangmu
Tak mau pergi

Dirimu nuansa-nuansa ilham
Hamparan laut tiada bertepi

Back to Reff

Menatap nuansa-nuansa bening
Tulusnya doa bercinta