Memoles Diri dengan Tato Henna Mehandi

•March 16, 2009 • Leave a Comment
@ my desk... PC number 14
 MEMBAYANGKAN salah satu bagian tubuh kita ditato  mengunakan jarum dengan penggerak motor elektrik dan tinta tato, rasa ngeri mungkin akan muncul. Sudah terbayang sakit menghadang manakala jarum itu bersentuhan dengan kulit kita yang lembut. Tapi, jika tato yang satu ini pastilah rasa khawatir itu akan pergi jauh.

Yap, tato henna mehandi belakangan memang terus naik pamor sejak dipakai Aisyah dalam film Ayat-ayat Cinta. Belum lagi, seringnya tayangan di televisi yang memperlihatkan gadis-gadis India atau Arab nampak lebih cantik dengan tato unik di tangannya. Tato menggunakan henna atau daun pacar ini juga bisa ditemui di Semarang.

Salah satu ahli pelukis tato mehandi ini adalah Hj Sari Prayogo yang dua tahun terakhir menekuni profesi tersebut. Keindahan seni tato bermotif Arabic atau India, membuat konsumen tak pernah bosan, karena begitu banyak model yang bisa dipilih dengan tingkat kesulitan yang bervariasi.

Menurut wanita kelahiran Tarakan, Kalimantan Timur, 32 tahun silam itu, melukis tangan dengan pacar kuku sudah tidak asing di kalangan masyarakat Banjar. Sebelum pernikahan, biasanya si pengantin perempuan akan dihias dengan lukisan di sepasang tangannya agar terlihat lebih cantik.

’’Ada di beberapa daerah di Sumatera atau Kalimantan menyebut dengan tradisi malam beinai (bainai), yakni melekatkan tumbukan halus daun pacar merah (inai), ke calon pengantin yang dipercaya mampu melindungi dan terhindar dari gangguan,’’ kata Sari yang belajar secara autodidak melukis tato henna ini dengan melihat rekannya orang India yang membuka tempat serupa di Jakarta.

between Meteor, bisnis Indonesia, n Suara Merdeka

between Meteor, bisnis Indonesia, n Suara Merdeka

Namun, pergeseran kini terus terjadi. Tak hanya etnis tertentu yang menyukai tato tersebut, tetapi juga masyarakat Jawa. Bahkan, jika biasanya hanya calon pengantin yang ingin dilukis tato, kini sudah merembet ke anak-anak muda yang cenderung memperhatikan fashion.

Motif India

Golongan yang terakhir ini ditato sekadar untuk mempercantik diri dan tampil berbeda dengan yang lain. ’’Unik dan keren banget motifnya, terutama style India yang sedikit rumit. Tapi, hasilnya secara keseluruhan indah sekali,’’ terang Farah, mahasiswa Undip yang kini sedang getol dengan henna mehandi.

Proses pengerjaan tato memang tak butuh waktu lama mulai dari 15 menit hingga dua jam, tergantung tingkat kesulitan model yang dipilih. Ramuannya berisi daun pacar, bubuk pacar henna dicampur jadi satu dengan air teh panas. Bahan baku berkualitas ini diimpor langsung dari India.

Sebagian besar konsumen yang datang ke workshop sekaligus butik muslim milik Sari di Jl Pamularsih Raya 104 Semarang, memang lebih menyukai motif India yang berseni tinggi. Selain langsung meresap ke dalam kulit, tato henna dengan pilihan warna hitam dan merah ini juga terbilang aman, karena berasal dari bahan alami yang bisa bertahan hingga tiga minggu.

’’Umat Islam tak perlu khawatir wudhunya tidak sah saat menggunakan mehandi, karena langsung menyerap ke dalam kulit dan tidak menghalangi pori-pori kulit ketika berwudhu,’’ terang Sari.

Harga untuk sebuah lukisan tato henna mehandi cukup terjangkau, mulai dari Rp 50.000 untuk satu motif di tangan atau kaki, dan Rp 250.000 untuk calon pengantin.

Nah, jika ingin sebuah tampilan unik untuk mempercantik diri, rasanya tak perlu takut lagi memoles tangan dan kaki kita dengan tato temporer yang memikat hati ini. (Modesta Fiska-37)

Lewati usia 28

•March 13, 2009 • Leave a Comment
Perjalanan panjang itu akhirnya menemukan ujungnya. Di sebuah persimpangan aku terpekur sendu menidurkan bilur-bilur sembilu. Tangan kakiku terasa kaku bahkan melangkahpun aku tak mampu.     
        
Dari kejauhan cahaya violet pun datang memamerkan sinarnya. Menghangatkan raga yang tersiksa didekap ombak kala senja. Aku tertegun betapa indah cahaya itu menepis sayatan-sayatan pedih batinku.
Dan sejenak angin pantai menabur riap-riap aroma asin lautmu…
Sejurus kemudian pasang mengangkat tinggi-tinggi pasir hitam itu. Kelam senja kini tak lagi bersuara. Yang ada gesekan-gesekan lembut angin dan kelapa..
Tapi bagiku semuanya jadi cambuk pengalaman hidupku. Kebahagiaan itu telah memelukku kini meski harus dihantam badai yang menyumpal kekakuan hati.
Rasa itu tak akan pernah pergi menjauh… sampai kapanpun

Wisata Nostalgia Wisata Ndesa

•March 9, 2009 • 1 Comment
kirab ndesa

kirab ndesa

Medio Februari 2009

Ke mana orang berwisata di Kabupaten Semarang? Mungkin jawaban paling populer adalah pergi ke Bandungan, berburu sayur-mayur, bebuahan, tanaman hias, dan menikmati kesejukan udara di vila yang bertebaran di sana. Bisa juga mampir ke Candi Gedongsongo, Kopeng, Museum Kereta Api Ambarawa, Rawa Pening, atau ke Umbul Sidomukti.

Yap, ada banyak alternatif kunjungan di daerah yang kaya akan objek wisata, baik wisata alam, budaya, maupun peninggalan sejarah itu. Bagaimana kalau berwisata ke tempat yang bernuansa nostalgis dan ”ndesa” di Dusun Suruhan, Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang?

Desa wisata itu berjarak sekitar 26 km dari Kota Semarang. Berada di lereng Gunung Ungaran dengan panorama khas pedesaan, hawanya begitu sejuk. Perintisnya Sanggar Tari dan Studio Pelestari Seni Budaya dan Permainan Tradisional Yoss Tradisional Center (YTC), hampir satu tahun berselang.

Boleh dibilang, YTC hampir serupa dengan Saung Angklung Mang Udjo di Bandung. Sajian budaya dan tradisi angklung dimainkan dalam sebuah pertunjukan yang menarik. Sama halnya juga jika kita berkunjung ke Bali dan menyempatkan diri menyambangi Bali Classic Centre. Tempat-tempat tersebut menonjolkan kesenian masing-masing daerah yang khas.

Kalau soal popularitas, mungkin masih belum semoncer yang di Bandung atau Bali. Meski begitu, gagasan Yossiady BS untuk mewujudkan desa itu sebagai tempat wisata edukatif tetap patut diapresiasi. Apalagi potensi desa yang berdekatan dengan sumber air Watu Kemloso itu tak kalah dengan desa wisata lainnya yang sudah eksis di Kabupaten Semarang seperti desa wisata Kopeng Kecamatan Getasan, Desa Candi dan Desa Sidomukti Bandungan, serta Desa Bejalen Ambarawa.

sumber air watu kemloso

sumber air watu kemloso

kalau musim kemarau airnya jernih banget

kalau musim kemarau airnya jernih banget

Untuk mencapai Dusun Suruhan Desa Keji, jalur paling gampang adalah lewat alun-alun Ungaran kemudian ke arah utara atau menuju ke Gunungpati. Jaraknya sekitar 4 km dari Kota Ungaran. Setelah melewati Terminal Sisemut hingga ke Perumahan Mapagan, silakan belok ke kiri dan ikuti petunjuk arah yang terpampang jelas.

Jalan berkelak-kelok sedikit menanjak dan tak terlalu lebar mewarnai perjalanan saya. Minggu (15/2) pagi itu mendung menggelayut. Hari itu akan ada Gelar Adat Budaya Tradisional di objek wisata nostalgia tersebut. Saya sedikit khawatir kalau-kalau acara itu bakal kacau lantaran hujan. Hmm, kekhawatiran itu terpupus oleh kehijauan terasering persawahan di sepanjang perjalanan. Tak kalah dengan persawahan di Bali yang begitu memantik pesona.

Sampai di Lapangan Siseret Dusun Suruhan, wahana kirab budaya bakal berlangsung, sudah banyak orang berkumpul pada area seluas sekitar 1.000 m2. Begitu hangat suasananya oleh tegur sapa anak-anak desa menyambut kedatangan tamu lengkap dengan pengalungan replika kuda lumping warna-warni.

Tampaknya tak ada celah yang tersisa. Begitu penuh dan meriah. Kios-kios bambu beratap sirap menawarkan aneka suvenir, makanan dan minuman khas, dan arena permainan tradisional. Ramai pula gubug untuk belajar membatik motif khas kuda debog-bunga terompet dan srengengen, pengenalan tokoh wayang Punakawan. Yang di situ kebanyakan anak-anak kelompok bermain dan TK.

Mereka terlihat riang. Beberapa tampak tercengang seperti baru kali itu melihat beberapa permainan ”ndesa” di situ seperti dakon, egrang, teklek atau bakiak, sprinto karet, atau gasingan. Maklum saja, barangkali mereka lebih akrab dengan permainan semacam playstation (PS), boneka barbie, mobil-mobilan dengan remote control, atau lego.

bermain dakonan...jadi inget masa kecil :)

bermain dakonan...jadi inget masa kecil :)

Tak hanya ketika ada acara khusus, setiap hari Minggu, Anda bisa berkunjung ke sana untuk menikmati suasana pedesaan dan pelbagai atraksi kesenian, khususnya tari. Lihat misalnya tarian selamat datang ”Kuda Debog”. Begitu unik dan rancak.
Penari anak-anak yang semuanya laki-laki yang menunggang ”seekor kuda” dari pelepah pohon pisang. Dengan kostum dedaunan yang unik, anak-anak itu menari dengan lincah seturut alunan gamelan dan lantunan merdu sinden.
Setelah itu, giliran beberapa remaja perempuan menari kuda lumping pesisiran lengkap dengan kostum cerah dan tata riasan meriah seturut irama musik lesung. Eksotis.

Pemilihan kuda lumping atau kuda kepang itu bukannya tanpa alasan. Sudah lebih dari tiga generasi penduduk di situ adalah pembuat dan penari jaran kepang. Menurut Yossiady BS dari tim kreatif dan jelajah pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Semarang, ada sekitar 95 orang Suruhan yang menekuni kesenian tersebut.

”Ini upaya kami melestarikan tradisi,” tandas lelaki yang akrab disapa Yossi itu.

Benarlah, wisata edukatif seperti YTC layak mendapat perhatian. Selama ini, mereka berswadaya membangun desa wisata yang diperoleh dari saweran hasil pertunjukan, sedikit demi sedikit disisihkan untuk kas dan membangun sarana penunjang yang representatif.

Berdasarkan data YTC, sejak dibuka hampir setahun lalu sudah hampir 1.000 wisatawan berkunjung. Ketua ASITA Jateng Bambang Setyono bahkan berencana membawa 400-an turis asing Amerika Serikat yang berwisata dengan kapal pesiar pada November nanti untuk mengunjungi wisata nostalgis tersebut.

Menurut dia, potensi pembelanjaan turis asing begitu luar biasa dan jika memang lokawisata yang terhitung baru ini bisa dikemas lebih atraktif, dia yakin Suruhan layak dikunjungi.

”Masih ada banyak waktu untuk berbenah dan saya harap pemerintah daerah memperhatikan keberadaan desa wisata ini. Nuansa desa di sini tak kalah dengan Bali, lho,” ujarnya.

18bsataa9-j141
Tapi apakah hanya pertunjukan seni budaya saja yang bisa kita nikmati? Tidak. Sumber air Watu Kemloso yang berada tak jauh dari lokasi tersebut juga jadi pelengkap perwisataan. Lebih-lebih setiap tahunnya ada ritus Iriban Banyu Kemloso. Perayaan yang jatuh pada Agustus tepatnya Sabtu Pahing itu biasanya digelar besar-besaran dengan kirab sesaji ke sumber air penghidupan warga itu.

Sebelum acara ritual, lokasi sekitar sumber akan dibersihkan dan ayam-ayam yang dibawa warga akan dipotong. Darah pertama si ayam akan diteteskan ke sumber yang ke­luar dari semak-semak di lereng bukit itu. Me­nurut Mbah Rajak (55), salah seorang se­se­puh, ritus itu sebagai ungkapan syukur war­ga sekaligus upaya pelestarian sumber air.

Selain itu, jalur menuju Kemloso inilah yang sering digunakan untuk tracking. Jaraknya tak sampai 1 km untuk sampai ke sungai berbatu dengan aliran air deras dari atas bukit. Batu-batu besar menghiasi alur sungai yang biasanya dijadikan rute petualangan. Dengan panjang 1,2 km, sungai berkelok-kelok itu sangat jernih di luar mu­sim hujan. Kalau hujan, airnya cokelat. Itu berbeda dari Watu Kemloso yang airnya selalu jernih pada musim apa pun.

Pecel Gablog dan One-day Tour
Selain alam dan atraksi kesenian tradisional, Suruhan juga asyik untuk wisata kuliner. Salah satunya, Anda bisa menikmati gethuk tetek melek. Unik sekali namanya. Kata Sunarti (35), salah seorang pembuat penganan itu, gethuk berbahan baku singkong ini hampir sama dengan kue jongkong. Bedanya cuma pembungkusnya saja: jongkong dengan daun pisang, sedangkan tetek melek dibungkus plastik.

gethuk tetek melek

gethuk tetek melek

Dinamakan melek, karena pembuatannya sambil melek-melek (be­ga­dang) dengan harapan yang me­nyan­tap gethuk itu bisa terus melek (terjaga) dalam menyaksikan pertunjukan adat dan tarian. Cara mem­buat­nya mudah. Singkong cu­kup di­pa­rut dan diberi garam dan gu­la Ja­wa selanjutnya dikukus dan di­letak­kan di atas nampan. Tunggu sampai dingin baru dipotong-potong dan disajikan dengan parutan kelapa.

Menu lain yang patut dicoba adalah pecel gablog. Jika biasanya kita makan pecel gendar, maka menu yang satu ini menggunakan gablog yang dibuat dari beras. Setelah dimasukkan ke plastik, beras kemudian direbus hingga penuh.

Selanjutnya beras setengah matang sekaligus plastiknya ikut dikukus. Butuh waktu satu jam sampai gablog bisa disantap. Membuat gablog tak perlu pakai bumbu. Cukup bumbu sambal pecel saja yang dicampur sayuran semacam sawi, tauge, bayam, dan daun kenci plus tambahan tempe mendoan. Hmm…

Kalau ada pertunjukan, kedua penganan itu jadi serbuan pengunjung. Apalagi seporsi hanya Rp 2.000. ”Acara baru mulai pukul 10:00, tapi pagi-pagi sudah banyak orang datang untuk memesan. Saya sering kewalahan,” cerita Sunarti.

Di luar itu, kalau ke Suruhan, kita bisa menyewa homestay di rumah penduduk. Harganya sangat terjangkau. Cukup Rp 50 ribu per orang, pengunjung tak perlu khawatir lagi soal makanan. Selebihnya jika ingin membeli paket-paket tertentu seperti kelas membatik atau permainan edukatif lainnya, kita pun tak perlu merogoh kocek terlalu tebal. Hanya Rp 5-Rp 10 ribu per orang.

Bahkan, YTC juga menyediakan paket One-day Tour di Kabupaten Semarang. Semisal turis turun dari bandara atau kereta api di Semarang, biasanya bus akan menjemput dan mengantar ke berbagai tujuan yang telah diatur sedemikian rupa. Seharian, para turis akan diantar ke industri herbal Ibu Hj Herlin, YTC, industri makanan khas Tumpi, industri tas Deliwang, dan industri tahu baxo Ibu Pudji.

Selanjutnya acara makan siang lesehan bermenu terancam bumbu khas dengan ikan gurami bakar dan ayam bakar di Umbul Sidomukti sebelum ke industri bordir Desa Jetis, Museum KA Ambarawa, Pemandian Muncul, dan Desa Wisata Kopeng untuk melihat cluster tanaman hias dan menikmati stroberi.

Semuanya hanya perlu mengeluarkan Rp 125 ribu per orang, lengkap dengan transportasi bus mini. Rasanya harga tersebut masih cukup terjangkau untuk sebuah paket wisata dengan banyak tujuan.

Pasalnya, itu juga sudah termasuk tiket masuk lokawisata, suvenir, minuman dan tarian selamat datang, penganan ringan, dan makan siang.

ditulis oleh Modesta Fiska (23/02/2009)

(source : www.suaramerdeka.com)

Surga Buah itu bernama Ngebruk

•March 9, 2009 • Leave a Comment

Medio 2008…

Puluhan tahun lalu, mungkin hanya hamparan perkebunan cengkeh yang bisa dilihat di kanan-kiri Desa Patean, Kecamatan Sukorejo, Kendal.  Memang kejayaan cengkeh masih tersisa, namun ratusan hektare lahan yang dikelola PT Cengkeh Zanzibar itu kini disulap menjadi perkebunan buah berkualitas dengan nama Sentra Buah Prima Ngebruk. 

Lokasinya berjarak sekitar 40 km dari Semarang dan bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Bersama Budi Dharmawan, Ketua Yayasan Obor Tani (Yabortan) dan beberapa karyawannya, saya mengambil jalan via Boja.  Sampai di pertigaan di mana ke kiri menuju Temanggung dan ke kanan ke Sukorejo atau Curug Sewu.

Kebun Ngebruk hanya sekitar 300 meter dari belokan yang ke kanan. Sebenarnya terdapat dua lokasi kebun yang dibelah jalan raya.

Dari arah Boja, sisi sebelah kiri adalah Blok Pamosan berluas 120 hektare. Di situlah nanti pusat agrowisata Kebun Ngebruk bakal dibuka untuk tahap awal. Adapun areal di sisi sebelah kanan jalan yang dinamakan Blok Surgong berluas 110 hektare hingga kini yang masih terus dibenahi.

Bukti keseriusan pengelola membuka kawasan wisata agro bisa dilihat pada pemercepatan pembangunan gedung auditorium, penambahan mobil wisata, kafetaria dan hortishop (toko buah dan penjualan sarana produksi seperti bibit dan pupuk), saung-saung atau gazebo tempat peristirahatan, serta infrastruktur lainnya.

Hari itu, sebelum menikmati wisata buah di Blok Pamosan, saya diajak menjelajahi Blok Surgong terlebih dahulu. Jalan berbatu dan medan terjal menantang penjelajahan dan cukup memacu adrenalin kami saat menaiki pebukitan di Surgong dengan naik Pajero hingga hampir ke puncak.

Perasaan deg-degan itu pun langsung sirna saat melihat hamparan belasan ribu pohon buah naga di sana.Rencananya beberapa bungalow untuk peristirahatan akan dibangun di situ. Dan pada ketinggian 450 meter dpl itu masih banyak pohon cengkeh kokoh berdiri.

Ah, akhirnya sampai juga kami ke waduk buatan. Waduk yang mampu menampung air hujan hingga 10 ribu m3 itu sangat dibutuhkan untuk kontinuitas penyiraman buah, apalagi di musim kemarau.

danau buatan di ketinggian

danau buatan di ketinggian

Pada ketinggian itu, sungguh luar biasa menikmati pemandangan dari waduk. Dari kejauhan tampak Gunung Prau, Sindoro Sumbing, Ungaran, dan Merbabu. Memesona benar.

Suasana yang sejuk dan tenang rasanya bisa membuat pikiran stres akibat padatnya aktivitas saban hari sekejap lenyap.  Sebenarnya saya belum puas, tapi wisata kebun di Blok Pamosan sudah ”menanti” kunjungan kami. Jadi kami segera turun dengan perasaan sedeg-degan ketika naik.

Sampai di tujuan, terlihat gedung auditorium megah yang baru sekitar 80% dirampungkan. Areal parkir yang mampu memuat lebih dari 20 mobil dan 4 bus juga tengah disiapkan. Walaupun belum secara resmi dibuka sebagai agrowisata, sudah banyak rombongan yang mampir menghabiskan waktu menikmati hamparan kebun buah.

Ya, sekarang tentu saja harus memberi tahu pengelola dahulu sebelum datang. Tapi nanti setelah resmi dibuka, pengunjung bisa datang langsung merasakan sensasi berwisata buah. Kendati disediakan mobil wisata terbuka berkapasitas sekitar 10 orang, namun pilihan berkeliling kebun dengan berjalan kaki, rasanya bakal lebih menantang.

Tempat ini akan jadi surga bagi para petualang atau yang punya hobi naik turun gunung, sebab medan yang dilalui memang berbukit-bukit dengan sungai, serta satu lagi danau buatan seluas 1 hektare berkedalaman 3 meter yang bisa dimanfaatkan untuk memancing atau berperahu.

Berada di antara rimbunnya kelengkeng itoh yang jumlahnya mencapai 9.000 pohon, tentu jadi sensasi tersendiri. Namun sayang, kedatangan saya kali ini sedikit meleset sebab buah baru selesai dipanen. Hanya tersisa 2-3 pohon lengkeng itoh saja yang bisa dinikmati.

Melihat kelengkeng bergerombol begitu banyak, rombongan yang berkeliling bersama Pak Budi, langsung menyerbu. ”Hajar terus, mumpung gratis. Kapan lagi bisa metik lengkeng kaya gini,” seloroh salah seorang anggota rombongan. Dan saya pun tak mau ketinggalan.Tak hanya lengkeng itoh yang habis dipanen, durian monthong yang per buahnya bisa berharga lebih dari Rp 50 ribu itu juga baru mengeluarkan bunga.

Menurut pakar tanaman buah dari Malaysia Erick Lim yang juga menjadi advisor Pak Budi, buah durian bisa dipanen Oktober nanti. Selain durian monthong yang cukup komersil, di kebun itu ada pula rambutan binjai dan rapiah, jambu air, kelapa pandan wangi, nangkadak (persilangan nangka dan cempedak), mangga Thailand, dan srikaya Grand Anona.

Penelitian pun terus dilakukan untuk mendapatkan buah unggulan dan menjaga kontinuitas buah agar bisa dipanen sepanjang musim. Tapi sekadar tengara, pada bulan Oktober buah naga sudah mulai berbuah dan terus ”memerah” hingga akhir tahun.

Kalau srikaya, lengkeng, dan jambu bisa kelihatan hasilnya mulai bulan Agustus. Kalau mau semuanya berbuah, datang saja pada November-Desember hingga awal-awal tahun. Begitu saran sang encik yang juga jadi advisor Kebun Buah di Taman Wisata Mekarsari di Cibubur Bogor serta beberapa kebun buah milik pengusaha agro dan pemerintah daerah.

Dia juga mengembangkan sejumlah varietas di kebun koleksi seluas lima hektare. Sebut saja, durian Musang King yang sangat terkenal di Malaysia, Jeruk Madu, Nangka Madu, Kapulasan (mirip rambutan berukuran besar dimana 1 kg bisa berisi 10 buah dan bijinya juga bisa dimakan), dan cikumega (sawo besar berukuran 3-6 ons).

Penasaran seperti apa bentuk dan rasa buah-buah eksotis ini? Ide Erick dan Pak Budi untuk kembali ke Ngebruk beberapa bulan lagi dan makan buah sekenyangnya, pasti akan saya lakukan.

Merasakan nikmatnya memetik durian monthong langsung dari kebun. Atau mencicipi segarnya melon raksasa yang diambil dari para petani plasma? Sungguh sebuah wisata yang pasti membuat kita riang, dan perut kenyang.

Anona, Selangit Harganya

Sewaktu Pak Budi Dharmawan menawari untuk mencicipi srikaya seharga Rp 147 ribu per buahnya, saya agak gamang juga. Apalagi, seumur-umur baru ini kali saya melihat buah srikaya atau anona yang beratnya hampir 1 kg.

Srikaya yang saya cicipi ini cukup terkenal di Australia dengan nama jade fruit. Berbeda dengan srikaya lokal yang banyak sekali bijinya sehingga setiap kali harus ngelepeh biji-biji itu, maka anona yang satu ini cukup diiris lalu disantap. Daging buahnya pun sangat tebal dengan biji yang bisa dihitung dengan jari. Nah di luar negeri, harga srikaya atau custard apple itu memang mencapai ratusan ribu rupiah tergantung ukuran dan kualitasnya. Rp 147 ribu di atas sudah hasil konversi dari 21 dolar Singapura untuk satu buah.

Di Kebun Ngebruk, komoditas srikaya juga terus dikembangkan oleh Yabortan. Bibit berkualitas menjadi syarat mutlak untuk memperoleh buah dengan grade A (terbaik). Dari dua bibit mahal yang diuji coba, satu gagal namun yang lain mampu bertahan. Selanjutnya 1.000 bibit srikaya ditanam dan selama tiga bulan masih bertahan.

Pemilik perusahaan perkebunan PT Cengkeh Zanzibar itu pun langsung menambahi kebunnya dengan 5.000 bibit lagi yang sudah ditanam sekitar dua bulan terakhir.Dan hasilnya berupa varietas srikaya Grand Anona-Ibama yang mampu menembus pasar dan tak kalah bersaing dengan buah-buah impor.

Berat buah produksi Kebun Ngebruk berkisar 0,5-0,8 kg. Jika dirata-rata berat mencapai 0,7 kg. Harga jual di tingkat lokal mencapai Rp 50 ribu per kilogramnya. Saya membayangkan, jika banyak petani mau belajar dan beralih membudidayakan buah-buah bernilai jual tinggi seperti itu mungkin sentra hortikultura buah-buahan akan berkembang pesat.

Dan dari rupiah yang dihasilkan ini pun bakal mampu memberikan keuntungan untuk meningkatkan daya beli petani kita yang terpuruk. ”Menanam buah bernilai jual tinggi itu bisa dimulai dari pekarangan atau kebun yang kita miliki. Bahkan lahan telantar di pinggir-pinggir jalan yang kami lewati, sebenarnya bisa disulap menjadi kebun buah,” ujar Budi Dharmawan.

Yang jelas, dengan nilai komersial yang sedemikian menggiurkan, buah-buah berkualitas ini tak kalah dengan buah asing. Benih yang semula didapat dari impor, juga terus dikembangkan dengan varietas lokal dengan cara penyambungan.

Namun tentu saja dibutuhkan ketelatenan dalam merawatnya. Selain bibit berkualitas, syarat-syarat pemupukan yang benar mutlak harus dipenuhi. Pemupukan pun dilakukan seminggu dua kali dengan penyiraman teratur. Soal air, Kebun Ngebruk tentu tak perlu khawatir sebab hal tersebut sudah dipikirkan dengan membuat dua waduk buatan.

Tanaman buah cukup sensitif dengan air sehingga rutinitas ketersediaan air harus tetap dijaga. Apalagi pada saat musim kemarau, debit air dari waduk buatan yang menampung air hujan bisa digunakan untuk menyirami tanaman.

Nah, agar tak kecele, jika ingin melihat srikaya super itu berbuah, Anda bisa datang ke Kebun Ngebruk saat mulai panen di bulan Agustus. Selanjutnya, silakan menikmati sensasi srikaya Grand Anona itu langsung dari pohonnya.

ditulis oleh Modesta Fiska (02/06/2008)

(source : www.suaramerdeka.com)

Sensasi ber-airsoft gun

•March 9, 2009 • Leave a Comment
sensasi berairsoft gun di Tinjomoyo

sensasi berairsoft gun di Tinjomoyo

Hutan rimba itu masih menyimpan pesonanya. Meski tak selebat dulu, kawasan Tinjomoyo Semarang yang dulunya bekas kebun binatang masih terlihat hijau dan asri dengan pepohonan menjulang tinggi.

Hari itu, kuputuskan untuk mengamini ajakan teman sekantor ber-airsoft gun- ria. Pengalaman pertama, karena dulu aku cuma sebatas menjajal paintball–pelurunya pakai cat–jadi kalau ketembak pasti ketahuan.

Kalau yang ini, lumayan sakit juga bakal merah-merah kalau kena kulit. Apalagi kalau ditembakkan jarak dekat. Kurang dari dua meter, bisa berdarah-darah. Walaupun sudah pakai pelindung semacam helm, kaos panjang, atau google (kacamata gede)tetap aja sakit.

Tapi harus diakui pengalaman ini sangat mendebarkan, bersembunyi di balik semak atau pohon besar, mengendap-endap di lebatnya perdu hutan sungguh sebuah sensasi yang menaikkan adrenalin di otak.

Rasanya tak kalah dengan arung jeram, meski kalau boleh memilih aku pasti menyukai yang ada hubungannya dengan air. Yaph, kita berjalan nyaris tanpa suara dengan senjata mirip betulan. Imitasi bo…

Tak cuma nyali lewat medan yang lumayan berat, licin, naik turun, dan entah ancaman apalagi. Tapi yang jelas aku berhasil merebut bendera merah dari tiga bendera yang jadi tanggungan kelompokku.

Meski untuk mendapatkannya harus rela berbalut lumpur dan terjangan peluru yang mental sana-sini, pantang menyerah itu jadi kunci. Mau ngglesot, tiarap, merunduk, cara apapun bisa asal jangan kena tembak aja… Tapi kalau sampai dikerubutin semut hitam yang super gatallll, jangan protes ya!!!

charlie angels yang nggak bangetz...waks

charlie angels yang nggak bangetz...waks

Hiks Hiks pengorbananku harus dibayar dengan gatal2 karena semut ada di sekujur badanku. Salahku, ku hanya memakai kaos lengan pendek, tanpa jaket, dan sepatu kanvas yang ternyata licin banget waktu dipake. Berkali ulang kepleset, bahkan yang terakhir lebih parah. Usai merebut bendera aku lari keluar dan hujan bekas semalam masih tercecer di sana.

Para airsofter–sebutan bagi penyuka airsofter gun– tak lantas berhenti. Masih ada dua bendera lagi yang diperebutkan. Pertempuran tak terelakkan, berondongan peluru menghujam ke sana kemari.

Ahhh, kemenangan itu (mungkin) jadi milik kita.. Yang penting bukan siapa yang memang atau yang kalah, sebab sportivitas dan kebersamaan sangat dijunjung tinggi di sini.

Thanks buat teman2 sesama wartawan di Biro Kota. Sering-sering aja bikin acara kaya gini. Juga outbond di Umbul Sidomukti…(kayanya bakal ada yang bersedia jadi EO ya??)

Kita tunggu saja dah…

 

Cinta Jamal dan Latika

•March 9, 2009 • Leave a Comment

Akhirnya baru tengah malam ini aku bisa memuaskan rasa penasaranku terhadap film Slumdog Millionaire yang barusan dapat penghargaan Golden Globe 2009 untuk banyak kategori.

Mataku terbuka nggak bisa sekejab saja tidur..Ya, aku sudah begitu terbiasa berinteraksi (halah, baca : berkomunikasi) dari jarak jauh hingga lewat tengah malam. Jadi kalau sekarang tidak ada yg dikerjakan aku merasa hampa. Ada rasa yang hilang entah kemana..(sigh)

cinta Jamal dan Latika

cinta Jamal dan Latika

Melihat kegigihan Jamal Malik (Dev Patel) mencari cinta Latika (Frieda Pinto)membuatku cukup trenyuh. Menyaksikan pahit getir kehidupan Jamal dan Salim (kakaknya) sedari kecil rasanya miris juga. Potret kekumuhan (slum)tertangkap jelas di salah satu sudut Kota Mumbai India.

Kekuatan harapan yang tiada kunjung putus dari Jamal ditampilkan apik oleh sutradara Inggris Danny Boyle. Film Bollywood ini betul-betul diramu Boyle bersama asisten sutradara Loveleen Tandan yang asli India. Entah hasilnya film Bollywood berasa Hollywood atau sebaliknya.

Jamal merupakan pemuda tak berpendidikan yang tumbuh di kawasan kumuh Kota Mumbai. Saat menjadi peserta kuis Who Wants to Be A Millionaire, Jamal benar-benar memikat seluruh warga India. Dia menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Prem Kumar (Anil Kapoor)dengan mulus. Lewat kuis yang juga pernah ditayangkan di RCTI dengan pemandu Tatowi Yahya, perjalanan hidup Jamal dikisahkan.

Sampai di pertanyaan berhadiah 10 juta rupee berhasil dijawab, Jamal dijebloskan ke kantor polisi karena dikira curang. Ia disiksa dan diminta mengatakan sejujurnya darimana ia bisa mengetahui semua jawabannya dengan benar.

Kilas balik kehidupannya dan setiap pengalaman masa kecilnya membuat Jamal berhasil melalui rangkaian kuis dengan baik. Orang tidak akan percaya mengingat pemuda ini bahkan tak bisa menyelesaikan sekolahnya.

Namun hidup di jalanan yang begitu keras membuatnya tangguh menghadapi situasi apapun. Ia begitu percaya diri. Seteguh keyakinannya bahwa Latika, wanita yang dicintainya tidak akan melewatkan acara kuis. Jamal tiada putus asa mencari Latika dan memperjuangkan cintanya itu.

Satu persatu kisah ini dipaparkan dengan suguhan gambar yang artistik dan menarik. Menyentuh hati. Juga betapa Latika harus berjuang keluar dari cengkeraman sang germo, saat Jamal bekerja menjadi pedagang asongan di kereta api, guide, juga betapa dia amat mengagumi Amita Bachan, sang aktor. (Kamu harus simak bagian yang ini, karena lucu banget…adegan nyemplung ke kali ”septictank” dilakukan demi bertemu Amita yang turun dari helikopter menyapa penggemarnya…:)

Yang jelas, kemenangannya dalam kuis membuat Jamal jadi jutawan dan menemui Latika tersayangnya. Seperti janji Jamal, setiap hari dia akan menunggu Latika di stasiun pukul 5 sore.  Rutinitas yang dilakukan sampai akhirnya dia jadi jutawan, karena dia tahu Latika akan datang menemuinya.

Wheeww…akhirnya cinta itu datang juga menemukan belahan jiwanya. Tak peduli Latika pernah hampir dilacurkan, tak peduli Latika dijual oleh kakaknya sendiri ke seorang pengusaha yang tidak pernah dicintainya dan selalu menganiaya dia…

Cinta memang selalu memaafkan. Dan cinta juga mau menerima segala kekurangan juga kelebihan yang kita punya… Menjadi sebuah kisah yang indah jika kita selalu merasa dicintai karena segala cara akan dilakukan untuk membuat kita bahagia…

Hello world!

•March 9, 2009 • Leave a Comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.